Shadow Economy

Provisio Consulting – Lo pernah nggak sih mikir, di balik dunia ekonomi Indonesia yang keliatannya formal-formal aja—kantor pajak, BI, neraca dagang, APBN segala macem—sebenarnya ada dunia paralel? Kayak dark web-nya ekonomi.

It’s real, and it’s got a name: shadow economy. Bisa lo sebut ekonomi bayangan, underground economy, terserah. Intinya, ini semua kegiatan ekonomi yang nggak ke-detect sama sistem negara. Tapi bukan berarti ini semua kriminal. Kadang malah ini satu-satunya cara orang bisa survive.

Gue pernah ngobrol sama salah satu temen yang kerja di digital agency, tapi moonlighting-nya jadi jasa buzzer politik. Dibayar cash. No invoice. No PPN. No pajak. Dia bilang, “Bro, kalo gue laporin semua penghasilan gue, yang ada gue rugi. Negara bantu apa?” Oof. Sentil banget, kan?

Let’s break this down.

Shadow economy tuh luas. Dari penghindaran pajak (yang technically bisa legal kalo lo jago planning), sampe full-blown illegal stuff kayak judi online, penyelundupan HP BM, sampe jual beli data. Ekonom top dunia, Friedrich Schneider, udah ngulik hal ini sejak lama. Bahkan doi bilang, sektor ini tuh nyumbang signifikan ke GDP negara—meskipun nggak keliatan. Gila, kan? Lo kira cuma kantor pajak doang yang bisa ngitung duit negara? Nah, banyak aktivitas ekonomi yang actually cuan, tapi nggak pernah masuk catatan resmi.

Pemerintah Indonesia sendiri udah mulai aware soal ini. Menteri Keuangan, Bu Sri Mulyani, pernah ngomong di CNBC Indonesia—nggak tanggung-tanggung, beliau bilang shadow economy ini harus diurus serius kalo kita mau ningkatin penerimaan negara. Tapi pertanyaannya, bisa nggak?

Kalo gue pribadi, ngeliat ini bukan cuma ancaman. Ini juga peluang. Tergantung lo ngelola dan mindahin energi ‘gelap’ ini ke arah terang.

Sektor yang paling sering jadi ‘TKP’? Jelas, digital. E-commerce, freelancer, jasa endorse, dropship, online course bajakan, jasa SEO abal-abal—all that jazz. Banyak dari mereka yang nggak punya NPWP. Atau punya, tapi cuma buat syarat bikin rekening. Transaksinya? Pake QRIS temen, rekening atas nama saudara, atau bahkan crypto. No trace. No tax.

Misalnya lo punya online shop di TikTok Shop. Lo order barang dari Cina via Alibaba, masuk lewat jalur barang pribadi. Trus lo jual lagi di Indo, dapet cuan harian. Pajaknya? Nggak pernah keurus. Alasannya? “Ribet, bang. Takut malah dikejar-kejar.” Yah, siapa juga yang pengen volunteer buat dicek DJP?

Tapi gini, bro… menurut beberapa riset, shadow economy di Indo itu angkanya bisa nyampe 30-40% dari GDP. Itu gede banget. Like, in billions. Dan semua itu basically duit yang ‘hilang’ dari pantauan negara. Dari sisi fiskal, ini ancaman banget—karena negara jadi kehilangan potensi pendapatan. Tapi dari sisi potensi? Buset, ini ladang emas. Kalo negara bisa atur dengan baik, ini bisa jadi sumber pemasukan baru yang gede.

baca juga

Caranya gimana?

Well, salah satu langkah awal yang udah dijalanin adalah reformasi pajak lewat UU HPP (Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan). Salah satu fiturnya? NIK dan NPWP sekarang udah merge. Jadi, lo punya KTP? Artinya lo juga udah ready buat dimonitor pajaknya. Kalo lo ngerasa was-was, berarti sistemnya mulai jalan.

Tapi sampe sekarang, belum ada regulasi spesifik yang bener-bener narget shadow economy. Pemerintah harus bisa bedain mana pelaku yang emang niat kabur bayar pajak (evasion), dan mana yang cuma belum ngerti atau takut sama sistemnya. Solusinya? Bukan bikin mereka takut. Tapi bikin mereka nyaman. Misalnya: pajak kecil buat UMKM, izin usaha yang gampang, support digitalisasi. Bahkan bisa aja dikasih dashboard buat tracking transaksi biar mereka pelan-pelan masuk ke sistem formal.

Gue sempet ngobrol sama pelaku usaha kecil yang dulu jualan via Shopee, sekarang udah punya toko fisik. Dia bilang, “Awalnya gue takut pajak. Tapi pas ngerti, ternyata bisa diatur dan nggak segede yang gue bayangin.” Nah, ini dia. Edukasi dan sistem yang user-friendly bisa jadi game changer.

Data terakhir dari Kemenkeu per 31 Oktober 2024, penerimaan pajak kita udah tembus Rp1.517,53 triliun, atau 76,3% dari target Rp1.988,9 triliun. Lumayan sih, tapi coba bayangin kalo shadow economy bisa mulai ‘disentuh’? Bisa nambah berapa ratus triliun lagi? Gokil.

Tapi ya, semuanya balik ke implementasi. Regulasi yang terlalu ketat bisa backfire. Small biz yang belum siap bisa mati. PHK. Chaos. Ujung-ujungnya malah jadi beban sosial. Makanya perlu mitigasi. Misalnya, kasih insentif sementara buat yang baru masuk sistem. Atau kasih tools digital gratis buat pembukuan. Bahkan bisa juga collab sama fintech buat bantuin edukasi pajak ke merchant.

Gue ngerti, pemerintah pengen optimalisasi pendapatan. Tapi jangan sampe lupa: UMKM dan sektor informal itu penopang ekonomi nasional. Mereka engine di balik semua angka GDP yang lo baca di berita. Jangan bikin mereka takut, bikin mereka ngerti.

Gue juga pernah denger soal beberapa pelaku shadow economy yang sebenernya pengen taat, tapi takut kena penalti masa lalu. Solusinya? Amnesti pajak jilid dua, maybe? Tapi yang lebih transparan. Lebih digital. Lebih bisa dipercaya.

So here’s the deal.

Shadow economy bukan musuh. Dia itu kayak anak bandel yang sebenernya jenius. Kalo dikasih ruang dan arah yang bener, dia bisa jadi MVP. Tapi kalo terus didorong ke pinggir, ya dia bakal terus ngumpet. Dan negara rugi terus.

Akhir kata, ini bukan soal ngejar-ngejar rakyat kecil. Ini soal gimana negara bisa jadi fasilitator ekonomi yang sehat. Shadow economy itu nyata. Dan kalo kita pintar, ini bisa jadi peluang terbesar yang belum pernah kita sentuh.

Kalau lo pelaku bisnis digital, atau freelancer, atau apapun yang selama ini ‘main aman’ di jalur gelap, sekarang mungkin saatnya lo mulai ngintip ke dunia terang. Bukan buat negara doang, tapi buat masa depan lo juga. Transparan, tertata, dan nggak was-was.

But if you’re not ready for the spotlight, at least punya backup plan. Konsultan pajak, digital accountant, atau tools yang bisa bantu lo tracking transaksi. Don’t wait till DJP tiba-tiba dateng karena lo viral di TikTok.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top