Dividen Bebas Pajak? Beneran Bisa Nih, Asal…

https://provisio-id.com/provisioconsulting Dividen Bebas Pajak? Beneran Bisa Nih, Asal… Namanya Saka, 28 tahun, mantan karyawan kantoran yang sekarang banting setir jadi investor saham full time. Awalnya sih cuma iseng belajar di YouTube, nyoba-nyoba beli saham blue chip, lalu pelan-pelan berani nyemplung lebih dalam. Dua tahun terakhir, Saka udah punya portofolio yang lumayan—terutama karena rajin nabung di saham-saham yang rutin bagi dividen.

Suatu pagi di akhir Maret, Saka lagi rebahan santai sambil scroll X (dulu Twitter) ketika matanya tertumbuk di postingan DJP: “Dividen dari dalam dan luar negeri bisa bebas pajak, asal dilaporkan realisasi investasinya!” Saka langsung duduk tegak.

“Eh? Maksudnya gimana tuh? Bebas pajak?” gumamnya sambil mulai nge-googling.

Dari berbagai artikel yang dibacanya, ternyata memang bener. Pemerintah kasih insentif buat wajib pajak orang pribadi dan badan biar dividen yang mereka terima bisa bebas dari pajak penghasilan alias PPh. Tapi… ada tapinya. Nggak semua dividen otomatis bebas pajak. Ada syarat utama: duitnya harus diinvestasikan lagi di Indonesia, dan lapor realisasi investasinya ke DJP via Coretax. Saka makin penasaran.

Saka pun langsung nelpon temannya, Alin, yang kerja sebagai konsultan pajak di Jakarta.

“Lin, lu lagi sibuk nggak? Gue mau nanya soal dividen bebas pajak,” kata Saka.

“Dividen dari mana nih? Dalam negeri apa luar?” jawab Alin.

“Dua-duanya sih. Tahun lalu gue dapet dividen dari beberapa saham Indonesia, terus gue juga dapet bagi hasil dari investasi reksadana luar negeri.”

“Nah, cocok banget. Sekarang ada PMK 81 Tahun 2024. Intinya, dividen dari dalam maupun luar negeri bisa bebas PPh, asal duitnya balik ditanam lagi di Indonesia dan lu lapor via Coretax. Tapi laporannya harus tiap tahun loh, maksimal selama 3 tahun.”

Saka mulai buka laptop dan ngelihat dashboard Coretax. “Oke, tapi gue harus lapor kayak gimana sih?”

“Simple kok. Buka menu ‘Administrasi Pajak’ terus pilih ‘Permohonan Baru’, terus isi data soal dividen yang lu terima dan investasi ulangnya. Nanti kalau udah submit dan diterima, arsip digitalnya bisa lu simpan buat bukti lapor.”

“Oke noted. Tapi… Kalau gue nggak lapor, bakal gimana?”

“Ya kena PPh dong. Kalau dari dalam negeri, lu bakal dikenain PPh final 10%. Kalau dari luar negeri, bisa kena tarif umum sesuai UU PPh Pasal 17. Apalagi kalau telat lapor, bisa kena sanksi administratif juga.”

Saka pun mulai panik. “Ya ampun, kemarin udah 30 Maret! Deadline-nya 31 Maret kan buat WP pribadi?”

“Yap. Dan WP badan deadline-nya 30 April. Kalau udah mepet gini, buru-buru aja submit. Atau kalau takut ribet, bisa gue bantu sih. Tapi next time, jangan mepet-mepet dong, Sak,” kata Alin sambil ketawa.

baca juga

Setelah telepon selesai, Saka langsung mulai isi semua datanya. Dividen dari saham dalam negeri yang udah dia terima tahun lalu nilainya lumayan. Sebagian besar memang dia putar lagi buat beli saham dan obligasi, jadi sebenarnya udah masuk kriteria investasi ulang. Tapi dia baru tahu kalau itu harus dilaporkan secara formal ke DJP.

Dalam proses pengisian, Saka harus input beberapa informasi: tanggal terima dividen, sumber penghasilan, bentuk dan nilai investasi ulangnya, plus dokumen pendukung seperti bukti transfer dan penempatan dana. Untungnya semua arsip digitalnya udah dia simpan rapi di Google Drive.

“Fiuh… capek juga ya,” kata Saka setelah akhirnya klik tombol submit.

Beberapa hari kemudian, email notifikasi masuk dari DJP yang bilang kalau laporan realisasi investasinya udah diterima. Saka pun merasa lega.

Beberapa minggu setelah itu, Saka ketemuan lagi sama Alin di kafe langganan mereka.

“Gimana, laporan lancar?” tanya Alin.

“Lancar. Tapi gue jadi mikir deh. Ini kebijakan sebenarnya buat apa sih?”

Alin ngangguk. “Sebenarnya biar duit investor Indonesia, apalagi yang dapet dividen dari luar negeri, balik lagi ke dalam negeri. Jadi bisa bantu putaran ekonomi. Kalau semua orang malah taruh duit di luar dan nggak balik lagi, negara bisa rugi banyak.”

Saka manggut-manggut. “Makes sense sih. Dan gue juga jadi lebih aware soal pajak. Ternyata dengan patuh lapor, gue malah bisa dapet insentif.”

“Exactly. Makanya jangan males baca berita pajak, bro. Lumayan kan daripada harus bayar 10% PPh final, mending dilaporin, gratis!”

Mereka berdua pun ketawa. Saka bertekad, tahun depan dia nggak bakal mepet-mepet lagi. Bahkan, dia udah minta Alin buat bantu atur reminder laporan pajaknya tiap awal Maret.

Tapi ada satu pertanyaan terakhir yang masih mengganggu pikiran Saka.

“Eh Lin, kalo misalnya gue invest ulangnya ke emas digital, itu masuk kategori investasi sah nggak sih?”

“Masuk kok. Di PMK 18 Tahun 2021 disebutkan, bentuk investasinya bisa berupa surat berharga negara, saham, reksa dana, emas, properti, dan instrumen keuangan lain yang diakui. Asal jelas penempatannya dan bisa dibuktikan.”

Saka pun akhirnya merasa aman. Ternyata nggak sesulit yang dia kira. Yang penting rajin dokumentasi, patuh aturan, dan kalau bisa… punya teman konsultan pajak.

Malamnya, Saka upload story di Instagram: “Dividen bisa bebas pajak? Bisa dong. Lapor realisasi investasinya ya. Jangan ngaku investor kalau males urus pajak.”

Di caption-nya, dia nulis, “Thanks to @alintaxconsulting. Pajak jadi nggak ribet.”

Dan seperti biasa, story itu langsung dibanjiri reply. Ternyata bukan cuma Saka yang clueless soal aturan ini. Banyak teman-temannya yang juga baru tahu dan minta tips lebih lanjut.

Saka pun sadar, edukasi pajak itu penting. Dan siapa tahu, dari investor saham dia bisa jadi… influencer pajak?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top