E-Commerce dan PPh 22

Tax Consultant Jakarta – E-Commerce dan PPh 22, Cara Pihak Ketiga Mengelola Pajak Berdasarkan PER-15/PJ/2025. Pajak, apalagi yang berhubungan sama platform e-commerce atau marketplace, pasti jadi topik panas. Sejak diberlakukannya PMK 37/2025, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) juga nggak tinggal diam. Mereka ngeluarin Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-15/PJ/2025, yang punya aturan penting buat PPh 22 dalam ekosistem e-commerce. Jadi, kalo lo pedagang online atau yang berkecimpung di dunia platform digital, penting banget buat ngerti gimana cara Pihak Ketiga (kayak marketplace) bisa ngumpulin, nyetor, nyatet, dan ngreditin PPh 22 sesuai aturan baru ini.

Pusat Perbelanjaan Jadi Pemungut PPh 22

Nah, di PER-15/PJ/2025, Pusat Perbelanjaan atau lebih sering kita sebut marketplace udah ditunjuk sebagai pemungut PPh 22 buat transaksi jual beli barang di platform mereka. Ini dijelasin di Pasal 2 Ayat 1 dan 2, yang intinya, marketplace yang jadi perantara transaksi ini wajib ngumpulin dan nyetor pajaknya. Artinya, transaksi jual beli yang lo lakukan di e-commerce itu udah dikenakan pajak yang dikelola langsung oleh pihak yang mengoperasikan platform.

Jadi, kalo lo berbisnis lewat marketplace, pajak ini udah otomatis berlaku, dan marketplace bakal ngurusin semuanya. Pemungutan pajak ini mulai berlaku efektif bulan berikutnya setelah keputusan DJP diterbitkan. Nah, intinya, marketplace yang jadi perantara transaksi jual beli lo bertanggung jawab penuh atas pemungutan PPh 22.

PPh 22 Bisa Dikreditkan oleh Penjual Online

Sekarang, bagaimana dengan penjual online? Gimana mereka bisa memanfaatkan PPh 22 yang sudah dipotong? Sesuai dengan peraturan di Pasal 9 PER-15/PJ/2025, PPh 22 yang dipungut bisa digunakan untuk beberapa hal, seperti:

  • Pembayaran PPh tahun berjalan: Jadi, penghasilan yang lo dapet dari transaksi online ini bisa langsung dipakai buat bayar pajak lo tahun ini.
  • Kredit pajak: Kalau lo udah terdaftar dengan NPWP atau NIK yang benar, dan marketplace udah ngirimkan bukti pemungutan, lo bisa mengkreditkan pajak yang udah dipotong ke laporan pajak lo.

Makanya, lo wajib banget ngirimkan NPWP atau NIK lo ke marketplace, biar mereka bisa ngasih bukti pengumpulan pajak yang valid ke DJP. Nggak hanya sekedar transaksi, tapi supaya pajak lo bisa dihitung dengan benar.

Bukti Pengumpulan Pajak PPh 22 dari Marketplace

Jadi, bukti pengumpulan pajak dari marketplace itu berupa faktur elektronik yang diterbitkan oleh masing-masing platform e-commerce. Tentu aja, syaratnya faktur ini harus mencantumkan nama, NPWP, atau NIK lo. Kalo ternyata faktur nggak nyantumin semua data itu, lo bisa nambahin dokumen pendukung yang memuat informasi tentang penjual.

Jadi, penting banget buat lo yang jualan lewat marketplace buat pastiin faktur yang lo terima lengkap dan sesuai data.

baca juga

Batasan Waktu Pelaksanaan Pajak di Marketplace

Aturan ini bakal berlaku satu bulan setelah marketplace ditunjuk sebagai Pihak Lain atau pihak ketiga yang mengumpulkan pajak. Jadi, lo punya waktu cukup buat ngecek dan nyiapin sistem administrasi lo, terutama buat pelaporan dan pembayaran pajak. Setelah marketplace dipilih oleh DJP, pajak ini akan berjalan efektif mulai 5 Agustus 2025.

Pihak Ketiga Sebagai Pemungut PPh 22: Siapa Saja yang Bisa Jadi?

DJP menetapkan di Pasal 2 Ayat 1 PER-15/PJ/2025, marketplace dan platform e-commerce yang bisa jadi pemungut pajak adalah yang memenuhi kriteria tertentu. Ini berlaku baik untuk marketplace yang beroperasi di dalam negeri maupun di luar negeri selama mereka memenuhi syarat yang udah ditentukan.

Maka dari itu, jangan heran kalo tiba-tiba marketplace besar kayak Tokopedia, Bukalapak, atau Shopee ngurusin pajak lo. Mereka udah disetujui sama DJP buat jadi pihak yang bertanggung jawab dalam memungut PPh 22. Keputusan ini berlaku bulan berikutnya setelah DJP menerbitkan keputusan resmi.

Kesimpulan: Wajib Paham Pajak di Dunia E-Commerce!

Buat lo yang berjualan lewat platform e-commerce, wajib banget buat ngerti aturan baru ini. Pemungutan pajak yang dilakukan marketplace harus dipahami dengan baik, supaya lo nggak keteteran dan bisa optimalkan kewajiban perpajakan lo. Dengan adanya PER-15/PJ/2025, DJP ngebuka jalan buat lebih memudahkan pelaporan dan pemungutan pajak di dunia digital. Namun, buat lo yang masih bingung atau butuh bantuan lebih lanjut, konsultasi sama konsultan pajak Jakarta bisa jadi solusi tepat buat pastiin pajak lo bener dan sesuai aturan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top